Workshop Advanced NSICCS
Rabu, 2 November 2016

Jakarta - Industri Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang terdiri dari kartu ATM dan atau debet serta kartu kredit telah tumbuh menjadi industri dengan nilai ekonomi yang besar. Total nilai transaksi APMK pada 2009 mencapai hampir Rp 2.000 triliun. Sedangkan sampai dengan Juni 2010, total nilai transaksi APMK telah mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar 85% merupakan kontribusi dari Bank Nasional dan Bank Internasional sedangkan 15 % merupakan kontribusi dari bank-bank daerah.  Pada November 2012, berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia, jumlah kartu ATM dan debit yang beredar mencapai 72, 40 juta, tumbuh 24,52% dibandingkan November 2011 sebesar 58,15 juta (Informasi: Data Statististik, Bank Indonesia – November 2012)

Nilai ekonomi industri APMK yang besar tersebut telah menarik perhatian pelaku kejahatan untuk mengambil keuntungan secara ilegal. Pelaku kejahatan memanfaatkan titik-titik kerawanan pada industri APMK untuk melakukan penyimpangan (fraud). Sebagian besar fraud memanfaatkan kerawanan pada aspek teknologi. Namun demikian, kerawanan pada aspek manusia, proses dan lingkungan juga mempunyai andil yang besar dalam fraud di industri APMK. Fraud merupakan ancaman dalam industri APMK. Selain merugikan pelaku industri dan masyarakat, fraud juga dapat mengikis kepercayaan terhadap instrumen APMK yang digunakan untuk bertransaksi. 

Bank Indonesia (BI) selaku otoritas sistem pembayaran merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap instrumen APMK sebagai salah satu instrumen pembayaran non tunai. Untuk itu, Bank Indonesia telah berupaya meningkatkan keamanan industri APMK dalam usaha menekan fraud, baik melalui penerbitan ketentuan, kegiatan perizinan dan pengawasan terhadap pelaku industri. Salah satu upaya BI yaitu menerapkan system kartu berbasis teknologi chip dengan mengeluarkan Surat Edaran SE BI No. 13/22/DASP – 18 Oktober 2011 tentang implementasi teknologi chip pada kartu ATM/Debit dan penggunaan 6 (enam) digit Personal Identification Number (PIN) untuk seluruh penerbit Kartu ATM/Debit di Indonesia sebelum 31 Desember 2015. Standar spesifikasi kartu chip yang ditetapkan di Indonesia diberi nama NSICCS (National Standard for Indonesia Chip Card Specification).

Dalam pelaksanaan proses migrasi kartu dan infrastruktur sistem pembayaran yang dimiliki oleh bank dari teknologi magstripe ke NSICCS ada beberapa kendala yang pada umumnya ditemui oleh bank, seperti:

1.    Pemahaman konsep dan teknologi chip

Teknologi chip merupakan teknologi yang jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan teknologi magnetic stripe. Sehingga perubahan akibat penggunaan teknologi chip tidak hanya terbatas di kartu dan mesin ATM saja tetapi juga banyak hal lain yang harus disesuaikan. Di sisi lain kehadiran teknologi chip sebenarnya membuka banyak peluang aplikasi dan bisnis baru bagi bank-bank yang jeli dan memiliki pemahaman yang lengkap tentang teknologi tersebut.

2.    Manajemen proyek

Merencanakan dan mengelola proyek migrasi NSICCS merupakan pekerjaan yang cukup rumit, dan tanpa pengetahuan yang komprehensif kemungkinan besar akan menemui berbagai hambatan atau mengalami kelebihan anggaran (overbudget). Mengelola migrasi NSICCS juga akan berhubungan dengan berbagai vendor teknologi yang selama ini digunakan oleh bank. Dalam hal ini dibutuhkan spesifikasi yang jelas agar setiap vendor dapat bekerja dalam koridor yang pasti dan biaya yang terdefinisi.

3.    Kesulitan fasilitas pengujian / simulator

Karena migrasi NSICCS melibatkan banyak elemen teknologi bank secara simultan, maka kehadiran perangkat-perangkat pengujian dalam bentuk simulator sangat dibutuhkan agar migrasi dapat dilakukan bertahap per elemen teknologi. Tanpa kehadiran fasilitas simulator, proyek migrasi akan menjadi sangat kompleks karena banyak bagian yang harus diuji secara bersamaan.

4.    Ketersediaan produk di pasaran

Minimnya produk perangkat keras yang sudah mendapatkan sertifikasi dari lembaga sertifikasi yang berwenang, baik berupa smartcard chip maupun acquiring device (ATM, EDC), mempersulit pengambilan keputusan oleh bank mengenai produk yang akan digunakan dalam proses migrasi NSICCS.

5.    Mengelola proses transisi

Sekalipun belum ada implementasi NSICCS yang definitif, namun pihak bank perlu menyiapkan diri karena proses transisi menuju implementasi NSICCS membutuhkan waktu yang cukup panjang, ditambah lagi perlu proses migrasi yang dilakukan terlalu dekat dengan batas tenggat waktu akan berpotensi menghadapi kesulitan karena tingginya permintaan chip modulepada masa-masa tersebut

Oleh karena hal-hal tersebut di atas maka sejak akhir tahun 2011, PT Optima Infocitra Universal bersama team konsultannya membentuk unit bisnis baru, Optima Consulting Service dimana telah bekerjasama dengan INFOBANK Learning Center dan ASBANDA Learning Center dengan mengadakan training/workshop migrasi kartu ATM/Debit NSICCS (National Standard Indonesia Chip Card Specification).  Training/workshop ini adakan untuk membantu perbankan Indonesia khususnya mulai dari dewan direksi, grup pengembangan bisnis, grup IT, grup card center, dan divisi grup yang terkait dengan migrasi NSICCS. 

Training/workshop ini di laksanakan setiap 4 bulan sekali  dari tahun 2012 s/d saat ini. Selain Training/Workshop NSICCS 101 (Pengenalan awal), Infobank Learning Center bersama Optima Consulting Service baru saja mengadakan Training Advance NSICCS (training tahap lanjutan dan lebih teknis) pada tanggal 27-28 Agustus 2013 di Hotel Harris Tebet, Jakarta.  Dimana training ini di khususkan kepada peserta dari pihak perbankan yang sudah mempunyai komite/team teknikal sehubungan dengan migrasi ATM/Debit NSICCS tersebut. 

EXISTENCE OPTIMA
PROJECT REFERENCE

Kartu ID Pegawai

Pekerjaan Total Solusi Kartu ID Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2011 s/d Sekarang.
Kartu Java Combi Dual Interface (Chip Contact & Contactless)
Applet Match on Card (MOC) Biometric
Sistem Absensi Kepegawaian & Personalisasi d) Chip Contact and Contactless Reader

CMS e-KTP

Pekerjaan  Personalisasi Smart Card e-KTP NASIONAL Direktorat  Pengelolaan Infomasi  AdminIstrasi  Kependudukan,   Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri RI – KEMENDAGRI. 2011 s/d Sekarang.

Aplikasi Card Management System (CMS)  dan Aplikasi Integrasi Terkoneksi ke 22 unit Mesin Personalisasi kartu E-KTP (Perso Biro 1 di PNRI) dan 14 unit Mesin Personalisasi (Perso Biro 2 di Patra Jasa Tower)

Kartu e-Karip

Pekerjaan Total Solusi Kartu e-Karip (Kartu Identitas Pensiun) untuk PT Taspen (Persero) termasuk standard open platform untuk Seluruh Mitra Bayar (BRI, BTPN, PT POS, Bukopin, BTN, BNI, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia) – 2012 s/d sekarang.
Kartu Java Chip Contact Card (certified by Visa, MasterCard, in progress untuk NSICCS (National Standard Indonesia Chip Card Specification), termasuk SAM Card
Applet Match on Card (MOC) Biometric c) Electronic Data Capture (EDC)/Reader
Enrollment, Verifikasi/Otentifikasi, Card Management System (CMS), Key Management System (KMS), Card Personalization System (CPS)

Smartcard Biometric

Pekerjaan Smartcard Biometric untuk PT Asuransi  Jiwa Inhealth (Subsidiary  PT Askes (Persero) berbasis kartu smartcard & EDC Biometric